Feeds:
Posts
Comments

Jargon iklan salah satu iklan deterjen yang kerap terdengar ini lama-lama menggelitik juga,..

Karena di dalamnya tersirat nilai hidup yang tinggiiiiii sekali,..

Pasti bingung kan?

Kok berkotor-kotor ria bisa dianggap baik?

Heuheuheu,..

Jangan bingung deeh,…

Ingat kata Rasulullah? Bahwa sesungguhnya semua amal perbuatan dilihat dari niatnya. Percuma kalo ngoyo-ngoyo berbuat baik di depan banyak orang hanya karena pengin nampang atau sekedar karena pengin jaim alias jaga image (hareeeee gini?!) karena pada akhirnya ketahuan kok mana yang berasal dari niatan yang murni atau mana yang karena hal-hal yang lain tadi.

Lalu apa hubungannya dengan berani kotor itu baik?

Hmmm,…pertama kita harus definisikan dulu apa itu ”kotor”

Lumpur? Tinja? (ups,..maaf)  Apa?

Okeh,…kata kotor disini mengarah pada situasi dan seseorang yang berada di dalam kondisi yang tidak layak atau dibawah standart-diluar orang-orang kebanyakan.

Yang berarti bisa hina, miskin, susah, sedih, bahkan kontroversial.

”Ra umum” jika meminjam istilah ayah saya untuk hal-hal yang tidak biasa dan tidak pantas di mata khalayak umum.

Setiap orang yang hidup di seluruh pelosok dunia ini pastilah menginginkan kehidupan seperti pada umumnya bangsa manusia, yaitu happily ever after.

Hidup senang, kaya, bahagia dengan keluarga dan teman-teman dll

Pastinya yang happy-happy deh,..

Yang kaya kawin ma yang kaya (makin kaya aje deee)

Yang pinter seharusnya ma yang pinter dong biar imbang

Yang ganteng pantesnya cuman ma yang cantik-cantik juga (pantes aku gak pernah dapet yang ganteng-ganteng,..hahaha!

Kepada para mantan:”Maafkan,..bukan berarti kalian nggak ganteng lhoh,..heuheu” )

Siapa juga yang mau hidup susah, miskin, atau hidup dengan kondisi yang kontroversi?

”Humility is the path to enlightenment”

Nah,..disini kata berani kotor itu baik bisa dimaknai menjadi sesuatu yang positif,..

Karena sebenarnya keadaan yang terlihat dan terasa kotor itu adalah sarana untuk mencapai tahap pencerahan dalam hidup dengan syarat kita berani dan ikhlas menjalaninya dengan niatan yang baik.

Sama seperti seorang ibu yang membiarkan anaknya berkotor-kotor ria karena belajar melukis dengan tangannya.

Berani kotor untuk belajar sesuatu yang positif.

Contoh lain,…seorang sahabat berani mengambil langkah untuk menjadi istri kedua dengan segala konsekuensinya meskipun semua orang mencercanya, termasuk keluarga dan teman-temannya.

Bukan berarti menyetujui tindakannya yang berarti menyalahi kepercayaanku sendiri untuk SAY NO TO LAKOR (LA-ki OR-ang) tapi sebagai seorang sahabat aku hanya bisa mengingatkan resiko-resikonya dengan niatan baik padanya, sisanya pasti tergantung pada keyakinan dan keikhlasannya untuk menjalani hidup yang dipilihnya.

Karena keberanian dan keikhlasannya itu,..sekarang dia masih baik-baik saja dengan pernikahannya.

Hidup berdampingan dengan rukun dan harmonis dengan suami dan keluarga dari istri pertamanya.

Semua konflik dia hadapi dengan sabar dan pasrah,..

Alhasil,..keadaan kontroversi yang bisa disebut kekotoran di mata publik itu men-transformasinya menjadi sosok wanita yang lebih bijak, sabar penuh dengan kelembutan.

Bedaaaaaaaaaaaa banget dengan sosoknya yang dahulu yang keras dan jaim abis.

Good for her,..Alhamdulillah

I think she pass her test this time.

Mau contoh yang lain?

Hmmm,…seseorang yang kukenal, berani menjalani sebuah perselingkuhan singkat yang menggelegakkan seluruh gairah hidupnya setelah dia mengalami perselingkuhan suaminya dengan puluhan wanita dalam kurun dua puluh tahun lebih perkawinannya.

Salah memang,…dilihat dari sudut manapun tetap sulit untuk dibenarkan.

Namun,..percayakah kamu jika ternyata pasca perselingkuhan itu, pernikahan mereka jauh lebih ”happening” ketimbang sebelumnya?

Posisinya tak lagi inferior dibanding dominasi sang suami yang jumawa.

Sang istri yang dulu tak lebih dari seorang konco wingking yang lemah lembut ternyata juga punya gairah yang meletup-letup.

Sang suami kena batunya, meskipun kejadian yang terjadi bukan dirancang untuk membuat laki-laki itu jera. Alhamdulillah-nya sang suami makin sayang padanya dan sang istri pun makin mengabdi pada sang suami karena pada dasarnya cinta dan hatinya hanya untuk sang suami

Dan mereka berbahagia hingga kini,..

Dari semua cerita itu ada pelajaran yang bisa diambil yaitu jangan pernah takut untuk keberanian untuk mengambil resiko dari sesuatu yang mungkin dipandang oleh kaca mata umum tidak pantas atau kotor jika memang perlu. Lakukan semua itu dengan niat baik.

Semua hal mengandung pelajaran.

Siapa yang berani mengambil tantangan yang bermakna peningkatan kualitas hidup secara spiritualitas maka dia akan tercerahkan.

Yang penting harus tetep iqro

Namun bukan berarti semua yang umum,..wajar,…indah-indah di mata manusia lain adalah yang salah dan membenarkan yang lainnya.

Tidak ada yang absolut di dunia ini.

Semua penuh dengan kontradiksi.

Dualisme.

Seringkali pihak yang mencibir akan segera merasakan semua hal yang dulu dicibirnya,..

Bersikaplah fair dan bijak dalam hidup.

Empatif, adaptif tapi tetap berprinsip.

Lentur namun keras seperti bambu sehingga multi manfaat,…

Ditulis untuk mengumpulkan nyali dan niat baik supaya berani mengambil keputusan-keputusan kontroversi jika perlu (lagi?! Gak kapok?..)

| Surabaya | Jemursari | October, 17 2008 |

HIPOTHESIS ala Shita:

”Teriakan dan Makian adalah Cara Baru Untuk Membunuh ”

Pas nulis artikel ini, sumpah saya gi nggak lagi bikin thesis lhoh! Sumpeeee!

(duuh guaya! Nulis thesis? Hahaha! Inget kata Pak Sri Gunawan, sang dosen pembimbing di MM Unair tentang diriku pada Amalia?  “Lhoh kamu kenal Shita? Shita yang bangkit dari kubur setelah mati surinya dari MM angkatan XX?Hahaha!”)

Jadi hipothesis diatas bukan berarti 100% valid, tapi bukan pula berarti hipothesis ini merupakan kesimpulan asal di pagi hari,..

Hasil dari pemikiran singkat saat ”rutinitas di pagi hari” alias….heuheu,..weeeeks!

Sesungguhnya ini adalah hipothesis yang kusimpulkan setelah membaca berbagai artikel, juga hasil dari pengamatan pribadi pada lingkungan sekitar selama beberapa tahun terakhir dan juga hasil dari eksperimen kecil-kecilan yang sempat saya jalani beberapa kali. (NOTE : obyek yang digunakan untuk eksperimen dijamin 100% bukan manusia lhoh. DIJAMIN (^_^) ”)

Dukungan pertama atas pemikiran awalku saya dapatkan dari salah satu artikel yang kubaca dari email seorang teman. Email yang bercerita tentang pengaruh Kata-Kata Negatif terhadap Air yang ditulis dalam buku “The Hidden Messages in Water” karya Masaru Emoto. Seseorang tersebut bahkan menyempatkan diri untuk melsayakan percobaan yang dicontohkan di halaman 31 dengan hasil sebagai berikut :

Tempatkan nasi sisa yg sudah didiamkan semalaman kedalam 2 toples dgn jumlah yg sama, kemudian ditutup rapat.

  1. Masing-masing toples di tempelin label yg berisi kata2 sbb:
  2. Toples A : ” Kamu Pintar, Cerdas, Cantik, Baik, Rajin, Sabar, Saya Sayang Padamu, Saya Senang Sekali Melihatmu, Saya Ingin Selalu di dekatmu, I LOVE YOU, Terima Kasih.
  3. Toples B : ” Kamu Bodoh, Goblok, Jelek, Jahat, Malas, Pemarah, Saya Benci Melihatmu, Saya Sebel Tidak mau dekat dekat kamu “
  4. Botol 2 ini diletakkan terpisah dan pada tempat yg sering dilihat dan seseorang tersebut pesan pada istri, anak, dan pembantunya untuk membaca label pada botol tersebut setiap kali melihat botol2 tersebut.
  5. Dan inilah yang terjadi pada nasi tersebut setelah 1 minggu kemudian :
KANAN

Nasi dengan kata-kata makian hasilnya : Busuk, cepat berwarna hitam, bau tidak sedap

KIRI :

Nasi dengan kata-kata positif/pujian baunya seperti ragi berwarna putih kekuningan

Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dgn bau yg tidak sedap. Sedangkan nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harum seperti ragi.

Menurut penelitian yang dilsayakan penulis, terdapat fakta yang sangat menarik. Yaitu ada yg mencoba dengan tiga botol dimana botol ketiga tidak di beri label apa-apa alias diabaikan/tidak diperdulikan, dan ternyata beras dalam botol yang diabaikan membusuk jauh lebih cepat dibandingkan botol yang dipapar kata-kata negatif.

Meskipun sudah memiliki diagnosa yang sama dengan pemikiran yang ada di dalam buku tersebut, tak elak pemaparan yang ada di dalam buku itu membuat cakrawala berpikirku terbuka lebar.

Coba kita bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang disekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan disekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yg berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka.

Jika hingga disini, anda yang membaca catatan ini masih merasa kurang setuju dengan hipotesis saya,…

Coba kita diskusikan tentang artikel yang juga saya dapatkan dari email seorang sahabat. Dalam email itu, diceritakan bahwa salah satu kebiasaan unik yang ditemukan di penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan.

Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik, yakni meneriaki pohon. Untuk apa? Kebiasaan ini ternyata mereka lsayakan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.Inilah yang mereka lakukan, jadi tujuannya supaya pohon itu mati. Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu  bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lsayakan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.
Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini
sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilsayakan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.
Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati.

Unik kan?

Have you already opened your mind to this bizzare idea?

That yelling with harsh words to living things will kill them in slow process.

Oke, sekarang mari kita bahas.

Apakah sih yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan Solomon ini?

Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda?
Ayo cepat!
Dasar lelet!
Bego banget sih! Begitu aja nggak bisa dikerjakan?
Jangan main-main disini!
Ih,….Berisik!

Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati?
Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu tahu nggak diri!
Bodoh banget jadi laki/bini nggak bisa apa-apa!
Aduuuuh, perempuan / laki kampungan banget sih!?

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya:
Stupid, soal mudah begitu aja nggak bisa! Kapan kamu jadi pinter?!

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal :
Eh tahu nggak?! Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi dari saya bakal nyesel!
Ada banyak yang bisa gantiin kamu!
Sial! Kerja gini nggak becus? Ngapain gue gaji elu?

Ingatlah! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Bahwa mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Mau tidak mau, sadar tidak sadar sesungguhnya kita juga sedang mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita dengan orang  tersebut.

Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita sebenarnya secara perlahan-lahan pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita dengan manusia ataupun mahluk lain .

Jadi, ketika ada masalah dan masih ada kesempatan cobalah untuk berbicara dengan baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Jangan malah ngamuk dan memaki dengan kata-kata kasar karena selain tidak akan menyelesaikan masalah juga akan merusak hubungan yang sudah terjalin.

Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan? Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak antara mereka hanya beberapa belas centimeter.

Mudah menjelaskannya.

Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak! Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu.

Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan.

Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh orang lain ataupun roh hubungan Anda, selalulah berteriak.Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi karena terkenal dengan sebutan pemarah. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.

Isn’t that ring your bell?

Kriiiiiiiiiing!!!!!! Hello????

Selama kita hidup sebaiknya kita selalu-lah sadar dan bijaksana dalam memilih kata-kata yg akan keluar dari mulut kita, termasuk mengendalikan pikiran-pikiran yg timbul dalam batin kita kecuali anda memang berniat untuk membunuh orang lain dengan cara ini.

Jadi? Hipotesa saya TERBUKTI.

Memaki dan berteriak dengan kata-kata kasar/negatif memang bisa mematikan (termasuk menggosip dan menghujat orang lain lhooooooo)

Heheheu,…

Bagaimana menurut pendapatan anda? (^_^)

Jadi kebayang untuk masang iklan di koran kuning.

SIAP DISEWA.

PEMBUNUH BAYARAN DENGAN METODE PALING MUTAKHIR

MEMBUNUH DENGAN CARA MEMAKI DAN BERTERIAK.

KETERANGAN LEBIH LANJUT, HUBUNGI : 08XXXXXXXXXXXXX

Heheheheu. Berani jamin deh, pembunuhnya bakal cepet mati juga. Mau tahu kenapa? Mati gara-gara tekanan darah tinggi atau serangan jantung karena marah mulu,…hahahaha!

Jangan diterusin mulu lho,..marah-marahnya apalagi pake maki-maki. Ya?

Berangkat dari keprihatinan dan upaya menggungah diri sendiri untuk tidak memaki, menghujat, membentak, menggosip yang mampu meracuni diri sendiri dan orang lain

| Surabaya | Jemursari | January, 30 2009 | 01.00 am | mediating with the universe|

Seorang guru bertanya pada murid-murid di kelas satu SD, “Apakah yang paling besar di dunia?”

“Ayah saya!” kata seorang gadis kecil

“Gajah!” kata seorang bocah yang baru-baru ini mengunjungi kebun binatang.

“Gunung!” jawab  yang lainnya.

Anak teman saya berkata,”Mata saya adalah hal yang paling besar di dunia !”

Seluruh kelas hening sesaat, mereka mencoba memahami jawaban si gadis kecil. “Apa maksudmu?” Tanya sang guru, sama-sama dibuat bingung.

“Ya…” si filsuf cilik mulai menerangkan, ”Mata saya bisa melihat ayahnya dan dapat melihat gajah. Mata saya pun dapat melihat gunung serta banyak hal lainnya. Karena semua hal itu dapat masuk ke mata saya, mata saya pastilah sesuatu yang paling besar di dunia.”

Menurut Ajahn Brahm dalam bukunya Opening the Door of Your Heart, “Kebijaksanaan bukanlah pembelajaran, tetapi melihat dengan jernih apa yang tidak dapat dengan jernih apa yang tidak dapat direncanakan. Sebenarnya bukanlah mata Anda yang terbesar di dunia, tapi pikiran Andalah yang terbesar di dunia.”

Pikiran Anda dapat melihat segala sesuatu yang dapat dilihat oleh mata, dan juga dapat melihat melampaui apa yang tampak dengan melalui imajinasi. Pikiran juga dapat mengetahui adanya suara, yang mana mata tidak dapat melihatnya, dan menyadari sentuhan, baik yang nyata maupun yang ciptaan impian. Pikiran Anda pun dapat mengetahui apa yang berada di luar pancaindera Anda karena segala sesuatu yang dapat diketahui dapat masuk ke dalam pikiran Anda, maka pikiran Anda pastilah merupakan hal terbesar di dunia. Pikiran memuat segalanya.

Potensi Dahsyat Pikiran Manusia

Pikiran memang luar biasa, memiliki potensi yang seringkali terlewatkan oleh kebanyakan orang, padahal cara berpikir atau yang sering disebut mindset merupakan salah satu kunci sukses. Secara khusus Adi W Gunawan fokus pada pembelajaran mengenai pikiran, bahkan kini Adi W Gunawan dikenal bukan sekedar sebagai seorang motivator tapi sebagai The Re-Educator & Mind Navigator, seseorang yang mendalami mind technology, dunia rekayasa pikiran (mind re-engineering) yang mempelajari tehnik-tehnik terapi mutakhir yang bisa dengan cepat dan tepat menemukan berbagai mental block pada tingkat presisi yang sangat tinggi dan mengubah mindset secara permanen.

Seakan mengimani apa yang dikatakan oleh Sterling W Sill, “Change your belief and you change your destiny” dalam bukunya yang ketiga, The Secret of Mindset, Adi W Gunawan menjabarkan betapa mindset atau pola pikir memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan hidup seseorang karena sesungguhnya mindset sebenarnya merupakan kepercayaan (belief) atau sekumpulan kepercayaan (set of belief) atau  dan cara berpikir yang mempengaruhi perilaku (behaviour) dan sikap (attitude) seseorang, yang akhirnya akan menentukan level keberhasilan hidupnya (baca: nasib).

Lebih lanjut, Adi W Gunawan menambahkan bahwa saat ini manusia kebanyakan hanya mengoptimalkan penggunaan pikirannya sebanyak 22% saja dalam bentuk pikiran sadar, sisanya yaitu 88% merupakan alam bawah sadar yang justru memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat. Bayangkan, dalam hitungan setiap detik 2 juta informasi masuk ke otak kita, pikiran kita mampu bekerja hingga 60.000 buah pikiran setiap harinya, tidak membedakan pikiran yang baik maupun yang buruk. Nah, apa jadinya jika selama beberapa waktu yang lama, pikiran anda jejali dengan hal-hal negatif. Padahal hidup yang kita jalani merupakan hasil proyeksi dari akal fikiran kita sendiri, seperti apa yang tertulis dalam Dhamapadha, 1 ayat 1 yaitu “Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk”. Jadi berhati-hatilah dalam mengolah pikiran kita sehingga apa yang terwujud sesuai dengan harapan dan impian kita.

Manfaat Berpikir Positif

Kedahsyatan pikiran tidak hanya dalam mencapai impian namun juga memiliki peran yang sangat besar dalam kesehatan psikis dan fisik. Bayangkan apa yang akan terjadi pada tubuh Anda jika Anda terus-terusan berpikir sesuatu yang negatif seperti kemungkinan anda terkena penyakit seperti kanker, tumor dan lain-lain. Kekawatiran dan ketakutan anda pada kondisi itu yang justru membuat kesehatan Anda terganggu. Bandingkan dengan kondisi dimana Anda merasa sehat dan berpikir positif tentang hidup dan kesehatan Anda, maka secara sadar atau tidak tubuh Anda akan terasa lebih bergairah dan semangat dalam menjalani hari-hari Anda. “You’re what you think you are

Para ilmuwan telah membuat kesimpulan atas riset selama puluhan tahun tentang manfaat berpikir positif dan optimisme bagi kesehatan. Hasil riset menunjukkan bahwa seorang optimis lebih sehat dan lebih panjang umur dibanding orang lain apalagi dibanding dengan orang pesimis. Para peneliti juga memperhatikan bahwa orang yang optimistis lebih sanggup menghadapi stres dan lebih kecil kemungkinannya mengalami depresi.

Berikut ini beberapa manfaat bersikap optimis dan sering berpikir positif.

- Lebih panjang umur

- Lebih jarang mengalami depresi

- Tingkat stres yang lebih kecil

- Memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik terhadap penyakit

- Lebih baik secara fisik dan mental

- Mengurangi risiko terkena penyakit jantung

- Mampu mengatasi kesulitan dan menghadapi stres

Mengapa manfaat ini bisa diperoleh bagi orang yang optimis dan berpikiran positif? Karena biasanya orang yang optimis akan menghindari kegiatan yang dilakukan orang yang pesimis dalam menghadapi stres dan tekanan hidup. Orang pesimis ketika menghadapi stres akan mengalihkan perhatian dengan kegiatan seperti merokok, konsumsi alkohol, dan menikmati makanan tanpa 
terkendali. Sedangkan seorang optimis akan melakukan lebih banyak aktivitas fisik, mengikuti diet sehat, serta mengurangi rokok dan alkohol.

Tips untuk Tetap Berpikir Positif

Menjaga pikiran kita untuk tetap positif memang tidak semudah membalik telapak tangan, apalagi kehidupan sehari-hari kita kerap bersentuhan dengan aktivitas yang memiliki potensi konflik. Sebenarnya untuk menjaga pikiran tetap positif tidaklah sulit tapi tentu saja membutuhkan waktu dan latihan untuk membuat kebiasaan baru ini. Berikut ini beberapa cara untuk lebih optimistis dan memiliki pikiran dan sikap yang positif :

  • Periksa diri Sendiri Sewaktu berpikir bahwa tidak akan bisa menikmati suatu peristiwa buruk atau tidak akan sukses melakukan suatu tugas, segera singkirkan pikiran itu. Berfokuslah pada hal positif yang akan dihasilkan.Lakukan pemeriksaan secara berulang. Jika pikiran negatif lebih banyak, maka segera alihkan dengan pikiran positif.
     
  • Ikuti gaya hidup sehat Berolahraga tiga kali sehari dapat mengubah suasana hati menjadi positif dan mengurangi stres. Pola makan yang sehat juga mempengaruhi pikiran dan tubuh. Ada baiknya Anda mempelajari cara efektif untuk mengelola stress. 

  • Nikmati hidup dan bersyukur Berupayalah menikmati hidup secara apa adanya. Carilah aspek-aspek yang menyenangkan dari hidup Anda.  Bersyukurlah atas hidup Anda, luangkan waktu untuk menengok kehidupan orang-orang yang tidak seberuntung Anda 
   
  • Bergaul dengan orang-orang positif Carilah teman-teman yang memandang kehidupan dengan positif. Orang-orang demikian adalah orang yang optimis dan selalu mendukung dengan memberi saran yang baik. Sebaliknya jika dikelilingi oleh orang-orang pesimis, akan meningkatkan stres  bahkan membuat ragu untuk mengelola stres dengan cara yang sehat.
    
  
  • Hadapi dan terima Hadapilah situasi yang dapat kendalikan, berupayalah menerima situasi yang tidak dapat dikendalikan.
    
    
  • Pelihara rasa humor Cobalah untuk tersenyum dan tertawa khususnya saat menghadapi saat yang sangat sulit. Carilah kejadian yang mengundang tawa dalam kegiatan sehari-hari. Rasa humor yang baik membantu seseorang memiliki pikiran, emosi, dan perilaku yang lebih positif.
    

  • Catat hal baik Setiap hari, catatlah tiga hal baik yang dialami.
   
  • Golden Rule Jangan katakan apapun kepada diri sendiri sesuatu yang tidak ingin Anda katakan kepada orang lain.


  • Hindari asupan berita negatif Sebisa mungkin kurangi asupan persepsi negatif (baik yg bersumber dari TV, majalah, radio, apalagi yg mengandung gossip, polemik, kontroversi & lainnya) karena dgn semakin sedikit info buruk yang masuk ke otak kita, makin sedikit kita pula peluang kita untuk berfikir negatif

Memang untuk berfikir positif sangatlah tidak mudah. Banyak hal di sekeliling kita seperti bencana alam, beban hidup, dan juga musibah bisa terjadi yang membuat 
kita merasa sulit untuk berpikiran positif. Namun tidak ada yang tidak mungkin, bukan? Mengingat betapa besarnya manfaat berpikir positif, maka perlu latihan dan upaya lebih demi menghasilkan kehidupan yang lebih sehat dan lebih memuaskan.

Tetap semangat, positif thinking dan jangan menyerah!

| Surabaya | Jemursari | Februari, 12 2010 | 01.00 am | mediating with the universe|

Saat saat lebaran gini, kata maaf menjadi kosa kata yang paling laris-manis digunakan. Namun pertanyaannya adalah apakah kata “maaf” itu benar-benar datang dari lubuk hati yang terdalam atau jangan-jangan hanya sebatas ucapan manis di bibir saja? Alias abang-abange lambe, sebagai syarat saja di momen hari Kemenangan.

Alangkah sayangnya jika di momen saling memaafkan saat hari Kemenangan Idul Fitri tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya karena sesungguhnya tindakan meminta maaf dan memberi maaf adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menolong diri sendiri.

Menolong diri sendiri?

Kok bisa?

Maka maafkanlah dengan cara yang baik.” (QS Al-Hijr: 85)

Ya. Coba anda rasakan bagaimana perasaan anda saat anda memiliki rasa marah, dendam, rasa bersalah pada orang lain? Anda cenderung akan merasa tidak enak hati, terasa seperti ada beban yang mengganjal hati anda. Bayangkan jika beban itu kita beri beban 1 kilo untuk setiap rasa dendam, marah, rasa bersalah yang anda rasakan, maka dijamin anda akan tampak seperti seorang binaragawan yang membawa beban berkilo-kilo kemana pun anda pergi. Ya kalau hanya sekilo-dua kilo, bagaimana jika beban itu mencapai puluhan kilo? Wah, apakah tindakan itu tidak membuat anda lelah? Belum lagi jika beban itu sudah dibawa kemana-mana sejak bertahun tahun,…

Phew,…capek deeh! (^_^)

Menurut Chatherine Ponder di dalam bukunya The Dynamic Laws of Healing, rasa amarah, dendam, rasa sedih dan rasa bersalah yang ekstrem dan akumulatif dalam diri seseorang  dapat menyebabkan seseorang terkena kanker. Untuk membantu kesembuhan seorang penderita kanker, Chaterine Ponder menyarankan meminta maaf dan memberikan maaf. Caranya dengan melakukan meditasi setiap hari sambil mengucapkan kata-kata afirmasi, “Bagi semua hal yang telah menyakiti perasaanku, aku maafkan. Apapun yang telah menyebabkan aku sedih, marah, dendam dan tidak bahagia, aku maafkan. Darimanapun asalnya, dari dalam diriku atau dari luar diriku, aku maafkan. Baik yang terjadi di masa lalu, masa kini dan di masa mendatang, aku maafkan.” Di buku yang berbeda yaitu The Power of Your Subconcious Mind oleh Joseph Murphy , mengungkapkan teknik pemaafan dengan cara afirmasi seperti ini :

Tenangkanlah batin anda, bersantai, kendurkan. Pikirkan mengenai Tuhan dan cintanya kepada Anda, lalu nyatakan, “Dengan sungguh-sungguh saya memaafkan sepenuhnya (sebut nama orang itu); secara mental dan spiritual saya lepaskan dia. Saya maafkan sepenuhnya semuanya yang bersangkutan dengan perkara termaksud. Saya bebas, dia bebas. Saya bebaskan semua orang yang pernah melukai dan merugikan saya dan mengharapkan mereka sehat, damai, bahagia, dan berkah. Saya lakukan ini dengan bebas, gembira, dan cinta kasih. Saya bebas dan anda bebas.” Baik Chaterine Ponder maupun Joseph Murphy sama-sama menyatakan bahwa sebenarnya efek menyembuhkan itu didapatkan bukan dari tindakan meminta maaf yang heroik, tapi datangnya justru dari rasa damai yang dirasakan saat beban perasaan negatif itu terlepas dari diri seseorang.

Kalau anda termasuk book lovers, coba sempatkan untuk mampir ke toko favorit anda karena sebenarnya apa yang diungkapkan oleh Chaterine Ponder di bukunya pada tahun 1990 juga dapat anda temui di buku-buku best seller seperti Quantum Ikhlas oleh Erbe Sentanu, The Sedona Method, buku best seller versi New York Times oleh Hale Dwoskin, Joe Vitale dalam The Zero Limit yang memperkenalkan metode Ho’oponopono dari Hawai dan beberapa buku terkenal lainnya. Secara garis besar semuanya mengungkapkan hal yang sama, yaitu meminta maaf dan memberikan maaf sebenarnya justru untuk menolong diri sendiri bukan untuk orang lain.

“Orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. “(QS Ali Imran: 134)

Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS Asy-Syura: 43)

Dengan meminta maaf dan memberikan maaf dengan ikhlas, anda memancing rasa hormat dari orang yang telah anda sakiti. Anda mengakui bahwa siapapun dia, dia pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari anda. Pengakuan ini membuat anda terlihat rendah hati, mengangkat dirinya, dan mengembalikan kesetaraan antara anda dan dirinya. Permintaan dan pemberian maaf anda yang tulus, membantu menghubungkan ulang tali silahturahmi antara anda dengan dirinya. Dan anda telah bersih dari rasa-rasa yang negatif, anda tidak hanya melucuti rasa-rasa negatif yang dia miliki terhadap anda tapi sekaligus membuatnya bersikap lebih baik kepada anda, sadar atau tidak.

Dengan meminta dan memberikan maaf, anda sudah membersihkan kesadaran jiwa anda sendiri dan cenderung membiarkan diri anda kembali terikat kepadanya dalam sebuah silahturahmi yang indah.

Ah,…indahnya kata maaf jika dipahami dan dilakukan dengan sepenuh hati.

Satu hari jelang Idul Fitri 1430 H :

Saya mengasihimu, Saya menyesal, Saya minta maaf dan Saya berterima kasih

–Metode Ho’oponopono-

| Surabaya | for AstraWorld e-Bulletin | September, 19 2009 |

Final Piala Dunia 2010 kali ini ditutup dengan duel maut 2 negara yang namanya turut mewarnai perjalan sejarah panjang kemerdekaan bangsa kita yaitu Belanda dan Spanyol.  Duel 2 negara eks penjajah Indonesia.

Bicara tentang penjajahan tentu saja menimbulkan pertanyaan menarik di dalam hati yaitu sebenarnya sudahkah kita merdeka? Setidaknya merdeka atas penjajahan terhadap diri kita sendiri? Kemerdekaan pikiran, tubuh dan jiwa kita dari segala macam bentuk belenggu? Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang apa itu penjajahan atas diri kita, mari kita kupas dulu arti kata merdeka.

Arti kata MERDEKA

Jika kemerdekaan dipahami secara leksikal, maka arti kemerdekaan tidak berbeda dengan kebebasan atau lepas dari ikatan dan kungkungan. Dalam Bahasa Inggris, kemerdekaan sepadan dengan kosakata independence, liberty, freedom atau right. Tiga buah kata, yaitu liberty, freedom dan right sering digunakan secara bergantian yang mengacu kepada kemampuan orang untuk berbuat tanpa pembatasan-pembatasan (the ability to act without restrictions). Freedom adalah term yang lebih umum mengenai kebebasan atau kemerdekaan. Liberty biasanya mengacu kepada kemerdekaan sosial dan politik. Right lazimnya mengacu kepada garansi-garansi kemerdekaan secara legal spesifik.

Terlepas dari pengertian dan uraian di atas, dalam anggapan dan pandangan umum, biasanya kemerdekaan diartikan sebagai ‘bebas dan lepasnya bangsa dari cengkeraman penjajah’ yang sejalan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan merdeka sebagai ‘bebas dari penghambaan, penjajahan dan lain-lain; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa’.

Berhubung ini dikaitkan dengan kebebasan sebagai individual maka artinya adalah individual yang secara pikiran, tubuh fisik dan jiwa bebas dari penghambaan, bebas dari keadaan yang terbelenggu oleh nilai-nilai yang menghambat kemajuan kehidupan sang individual, dapat merasakan kebebasan secara utuh, secara lahir dan batin, jasmani dan rohani, serta fisik dan mental, sehingga makna dan konsekuensi logis-positif dari kemerdekaan individual tersebut tercermin dalam realitas kehidupan sehari-hari. Bebas dan tetap stabil tatkala tagihan kartu kredit makin menumpuk dan menipiskan limit kredit yang bisa dimanfaatkan. Tetap damai dan berbahagia ketika office politic di kantor makin tidak fair dan membahayakan karir, dan lain –lain. Belum lagi belenggu yang berasal dari diri sendiri, seperti rasa minder, rasa dendam, rasa malu karena keterbatasan fisik , dan masih banyak lagi belenggu yang datang dari dalam individu sendiri yang dikenal dengan sebutan mental block.

Dari paparan arti kata kemerdekaan yang dikaitkan dengan kemerdekaan individu secara pikiran, tubuh fisik dan jiwa memang dapat dikatakan sulit bagi kita untuk benar-benar berada dalam keadaan yg merdeka apalagi hidup di tengah irama cepat khas gaya hidup kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dll. Tak heran jika tingkat stress  masyarakat yang tinggal di kota-kota besar meningkat, setahun belakangan puluhan kasus bunuh diri di tempat-tempat umum seperti pusat perbelanjaan meningkat tajam, belum lagi kasus orang tua yang membunuh anak-anaknya sendiri sebelum akhirnya membunuh diri mereka sendiri dengan cara membakar diri, gantung diri ataupun memotong urat nadi. Astaga, sungguh kenyataan yang memprihatinkan. Lalu dimanakah kemerdekaan  itu?

Sebenarnya jawabannya tidak muluk-muluk, karena pada dasarnya kemerdekaan itu letaknya ada pada diri sendiri. Jika kita mampu memerdekakan hati maka pikiran positif akan mudah terkondisikan untuk kemudian diterapkan yang pada akhirnya secara otomatis juga akan memerdekakan fisik, membuat tubuh semakin ber-energi penuh vitalitas. Seperti apa yang dikatakan Budha tentang hubungan antara kemerdekaan pikiran dan jiwa dengan kesehatan fisik, “Every human being is the author of his own health of disease” . Lebih lanjut lagi, Budha pun memberikan tipsnya untuk memelihara kesehatan yaitu “The secret of health for both mind and body is not mourn for the past, nor to worry about the future, but to live present moment wisely and earnestly

Setelah kita makin paham betapa erat korelasi antara kemerdekaan hati dan pikiran dengan kesehatan fisik dan jiwa maka penting sekali untuk terus menjaganya supaya senantiasa bebas, lepas dari mental block  individual dan belenggu lingkungan. Caranya?

  1. Dengan menyadari bahwa tidak ada satu individu pun yang benar-benar beruntung karena tidak memiliki masalah dalam hidup mereka, kecuali individu tersebut mati atau tidak sadar karena gila.
  2. Bertanggung jawab untuk menerima kenyataan bahwa diri sendiri memiliki andil dalam setiap kesulitan dan kekurangan dalam hidup, bukan semata-mata kesalahan orang lain atau lingkungan sekitar. Tidak lagi melihat diri sebagai korban, tapi juga pelaku, korban dan pengamat.
  3. Memaafkan dan mengikhlaskan kesalahan atau kesulitan yang ditimbulkan oleh orang lain terhadap kita, juga memaafkan, mengiklhaskan untuk akhirnya menerima keterbatasan yang kita miliki sehingga mendorong kita untuk meng-eksplorasi kelebihan yang kita miliki ketimbang selalu berkutat pada kekurangan kita
  4. Mensyukuri semua nikmat yang telah kita terima, musibah yang tidak kita terima juga nikmat yang akan  kita terima tiba di masa mendatang.
  5. Menghargai dan mencintai diri sendiri yang diciptakan untuk memiliki peran bagi kehidupan, sekecil apapun itu.
  6. Selalu luangkan waktu guna berdiam diri untuk hening sebentar baik dengan cara meditasi, yoga, ataupun berdoa menurut agama dan kepercayaan yang diyakini oleh masing-masing individu.

Jadi, sudahkah kita merdeka?  Apakah cukup merdeka untuk  bisa menghargai kemerdekaan diri sendiri yang berbatasan dengan kemerdekaan individu-individu lain ?

Surabaya, July 12, 2010 | D. Rishita Dewi

Hati,..

Di awal tahun berita yang aku denger bukannya makin “indah” tapi justru makin bikin miris hati..Banyak PHK dimana2…Belum lagi pagi ini baca posting di salah satu milis yg ku ikutin yang isinya seputar ramalan dari Prof Olip Bastupa yang “meramalkan” ada kehancuran old world dan bangkitnya new world pada tahun 2026 yang diawali ma 3 tahap GENOCIDE (pemusnahan umat manusia)dengan tujuan menyisakan manusia-manusia yang unggul dan memusnahkan sebagian yang lain.

Yang tidak waras…

Yang cacat…

Yang tua dan tidak produktif…

Yang miskin..

Yang bodoh…

Yang korup dan egois..

Duuuuuuuuuuh…..

Dimana tempat untuk ketidaksempurnaan?  

Bagiku (sebagai manusia) tidak ada posisi yang SEMPURNA .Yang ultimate dan tidak terbantahkan. Hanya Tuhan yang memiliki status itu…

Tapi bukan berarti manusia hanya duduk diam dan menerima ketidaksempurnaannya saja..

Manusia punya hati, akal dan emosi untuk mencapainya..berusaha mencapai kesempurnaan…Continous improvement alias KAIZEN sambil tetap menjaga keseimbangan hidupnya secara holistik..  

Jadi ingat hari-hari dimana aku habiskan waktu untuk berdebat dengan seorang teman yang ngotot mengaku dan minta diakui bahwa dirinya sempurna untuk menutupi ketidaksempurnaannya yang tampak.

Ironis memang..Tapi itulah fakta..Prihatin…

Mau tidak mau ini memberi aku pelajaran yang berharga..Pentingnya social skill misalnya hubungan dan komunikasi interpersonal, empati dll yang kini makin punya porsi lebih dalam semua aspek hidup.

Dulu semua menilai keunggulan hanya dari otak yang diukur dengan IQ..

Sekarang? Itu mah dah out of date..EQ, ESQ saat ini jadi kriteria untuk mengukur keunggulan seseorang dan bisa jadi alat prediksi kesuksesan seseorang.

Coba baca cerita sukses tokoh-tokoh dunia ato tips sukses ala author2 ato praktisi terkenal dunia..pasti ada unsur social skill sebagai salah satu syarat kesuksesan disamping faktor2 lain tentunya.Udah jadi berita umum apabila seseorang yang pinter, kadang lulusan luar negeri pula tapi minus social skill, nasibnya cuman ditolak perusahaan sana-sini..

Sekali lg ini ironis..terutama buat kalangan yang hanya mendewa-dewakan kemampuan otak semata tapi minus pengetahuan yang berhati..Hasilnya? Koruptor dimana-mana…

Belum lagi banyaknya orang-orang yang sombong, yang berpikir merekalah yang paling unggul sehingga selalu merendahkan orang lain. 

Di suatu kesempatan ngobrol dengan Rektor ITS, Bp. Moh Nuh, beliau kembali menekankan pentingnya hati dalam hidup. Pentingnya keseimbangan nilai-nilai dalam hidup karena kini bukan lagi eranya INDUSTRI..

Saat ini adalah eranya KNOWLEDGE yang ber”hati”.. 

Memori kembali lagi pada kejadian besar di kantor akhir-akhir ini yang muaranya dari hal yang terdengar sepele. Apa itu? Kepekaan pada lingkungan..

Beruntung aku lahir di keluarga yang selalu menitik beratkan pada pentingnya kepekaan sosial dan empati..Menjaga keseimbangan…Seperti halnya pesan dalam kartu 2 of pentacles..Juggling the balls..

Semoga banyak orang lain yang berpikir hal yang sama denganku..dan banyak yang berbuat lebih untuk dunia dari sekedar menulisnya di blog.

Amin 

If there is the light in the soul,

There is a beauty in the person,..

When there is a beauty in the person,

There is harmony in the house..

Wheen there is harmony in the house,

There is an order in the nation..

When there is an order in the nation,

There will be peace in the world !!!

Surabaya, re-writen from my old article dated October, 27 2005

Nama-ku

“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet
William Shakespeare

Namaku “DIAN RISHITA DEWI” atau panggil saja “Shita Dewi” atau “Shita”  Itu sapaanku yang paling dikenal 15 tahun terakhir,..

Di rumah aku biasa dipanggil “Mbak Dian” atau “Cempluk” klo pas Papa-ku yang manggil.

Well,…seperti yang dibilang Shakespeare, “Apa is artinya nama?” Karena toh meskipun disebut dengan nama-nama yang berbeda, mawar tetap saja berbau wangi. Ya to?Kecuali mawar boongan yang bagus dilihat tapi jangan ditanya tentang baunya, karena bisa saja mawar boongannya tiba2 berbau CK One (ooops,..parfum siapa ya?)…….atau Prada bahkan Clinique Happy yang belakangan susah dicari,..hehehehe 

Tapi nama tetaplah seharusnya punya arti,..Karena mau tidak mau,..nama adalah doa. Doa yang dipanjatkan kedua orang tua kita mengenai harapan dan mimpi yang mereka inginkan terjadi pada kita. Bahkan tak jarang, nama juga mengandung misi-misi yang kita emban selama kita hidup. Makanya jangan heran kalo ada cerita anak yang musti ganti nama gara-gara namanya terlalu berat untuk dirinya sehingga sebabkan dia jadi langganan rumah sakit, sangking seringnya opname. Jangan heran juga kalo untuk sekedar mengganti nama saja musti ditahbiskan dengan tetek bengek acara slametan termasuk membuat bubur merah putih. Hehehe,..

Jadi,…masih mengganggap nama hanyalah sekedar rangkaian kata2 untuk membedakan kita dibandingkan individual lainnya? 

Hope not,..Cause I do believe that name does refer to “doa” or our parent’s whishes    

Nah,..sekarang gimana dengan nama Dian RiShita Dewi?

Kata bonyok,..nama Dian dipilih karena berarti api atau lampu dalam bahasa melayu. Seorang anak yang membawa penerangan buat lingkungan sekitarnya. Alias enlightenment aka pencerahan yang ternyata setelah dihitung2 pake numerologi pas banget ma tanggal lahirku yang berarti IX. THE HERMIT who brings the enlightenment and the lamp of knowledge into the world through her very own journey of life.

Wow!!! Pas banget,….!!!U’re really genious, dad!!!

Luv u more now,.. 

Terus,…nama Shita diambil dari nama idola bokap yang pas aku lahir gi beken banget.Itu,..Ibu Raesita Supit.Terlihat jelas kalo maksud beliau menamai diriku supaya aku bisa sehebat Bu Raesita Supit yang kini termasuk jajaran perempuan berpengaruh di negeri ini.

Amin,…Semoga aku tidak mengecewakan beliau. 

Kalo nama Dewi ditambahkan supaya menambah aura perempuan dalam diriku dan sebagai penegasan supaya jadi mahluk supranatural alias Dewi yang bernama Shita.Un-ordinary girl named Shita.Heuheuheu,… 

Itu cerita tentang asal namaku,..lalu apa kata kamus tentang asal dan arti dari namaku?Let’s take a glimpse bout it,.. 

DIAN

Gender : Feminine | Usage : Latin | Meaning : Its source is DIVIANA, a Latin name meaning “GODDESS.” Though this name has fluctuated in use, it has been quietly present throughout the last century.This was one of the names of the ancient Roman moon goddess, equivalent to the Greek goddess Artemis. She was also goddess of the hunt and of chastity. Like most deities, she was called by several names, including Cynthia and Delia.  

DEWI or DEVI

Gender  : Feminine| Usage : Indian, Hindu Mythology | Meaning :Derived from Sanskrit DEVI meaning “GODDESS” Devi is the Hindu mother goddess who manifest herself as all other goddess 

SHITA or SITA 

Gender: Feminine | Usage: Indian, Hindu Mythology | Meaning : Means “furrow” in Sanskrit. Shita is the name of the Hindu GODDESS of the harvest. This is also the name of the wife of Rama in the Hindu epic the ‘Ramayana’. 

Waduw,..waduw,..Berasa gak klo namaku beraaaaaat banget.

Bayangin ketiga2nya berarti GODDESS = DEWI

Walah,..Well,…semoga aku bisa mengemban tugas sebagai seorang Goddess,..meskipun aku yakin kalo  temen-temen bakal ngebaca ini sambil ketawa sampe sakit perut gara-gara mereka dah paham betul kelakuan asliku yang lebih mirip nona sok sibuk yang sibuk kesana kemari dibandingkan seorang dewi yang tenang dan keibuan. Meski kadang bisa juga jadi “mama” yang anggun dan sophisticated. Heuheuheu,.. 

Akhirnya,..bagaimanapun nama memang mengandung berjuta arti dan harapan untuk penyandangnya. Termasuk namaku.

Yang diharapkan sesuai dengan namanya yang berarti seorang dewi yang membawa pencerahan, kemakmuran dan kebahagiaan bagi lingkungan sekitarnya melalui pemikirannya, ucapan-ucapannya, sentuhannya, dan tindakannya,

Karena pada akhirnya sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberikan manfaat. Amien

Sudahkan seorang Dian Rishita Dewi memberikan manfaat?

Wallahu allam,..

 Surabaya, 21 Desember 2007

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.